penulis : M. Marzuki
Penerbit : PARAFRASA 2012
108 + xviii halaman; 16.5 x 21.5 cm
ISBN: 978-602-18253-1-0
Harga :: Rp. 25.000,-
Seorang gadis mengirim surat ke sebuah majalah terkenal. Gadis tersebut sangat
cantik dan sangat populer di lingkungan sekitarnya. Karena dianggap unik,
majalah terkenal tersebut lalu memuat tulisan itu dengan judul "Apa yang
harus saya lakukan untuk mendapatkan pria kaya?". Demikian isi surat gadis
cantik tersebut:
Maaf jika sedikit menyindir, tetapi saya hanya mencoba jujur dengan apa yang
saya pikirkan selama ini. Saya berumur 25 tahun, sangat cantik, dan punya
selera fashion yang sangat bagus. Saya ingin menikah dengan seorang pria yang
berpenghasilan minimal 500 ribu dollar per tahun.
Anda mungkin berpikir saya matre, tetapi persyaratan yang saya ajukan tersebut
sebenarnya sangat wajar. Tahukah Anda jika penghasilan 1 juta dollar per tahun
hanya dianggap sebagai kelas menengah di New York? Saya hanya mengajukan syarat
separuhnya sehingga saya kira cukup masuk akal.
Adakah diantara pembaca majalah ini yang punya penghasilan minimum 500 ribu
dollar per tahun? Apa kalian mau menikah denganku? Yang ingin saya tanyakan
ialah apa yang harus saya lakukan untuk menikahi orang kaya seperti Anda?
Pria terkaya yang pernah kencan dengan saya hanya berpenghasilan 250 ribu
dollar per tahun. Saya yakin Anda tahu, penghasilan segitu tidaklah cukup untuk
hidup di pemukiman elit City Garden, NewYork.
Dengan kerendahan hati, saya ingin menanyakan di mana saya bisa bertemu pria
lajang kaya? Pria umur berapa yang harus saya cari? Kenapa kebanyakan istri
orang-orang kaya hanya berpenampilan 'standar'? Saya pernah bertemu dengan
beberapa wanita yang memiliki penampilan 'tidak menarik', tetapi mereka justru
mendapatkan pria kaya.
Bagaimana cara Anda, para pria kaya, mengambil keputusan siapa yang kelak
menjadi istri dan siapa yang hanya pantas menjadi pacar?
(Si Cantik)
Tidak disangka, tulisan yang berisi banyak tantangan tersebut ditanggapi oleh
banyak pria kaya dengan serius. Di bawah ini adalah balasan dari seorang pria
kaya yang bekerja di Finansial Wall Street:
Saya sangat bersemangat saat membaca surat Anda. Saya rasa banyak gadis di luar
sana yang punya pertanyaan sama dengan Anda. Ijinkan saya untuk menganalisa
situasi yang Anda alami, tentunya dari sudut pandang seorang profesional.
Penghasilan saya per tahun lebih dari 500 ribu dollar, sesuai dengan syaratmu,
jadi saya tidak main-main dengan balasan saya ini.
Menurut saya, jika dipandang dari sisi bisnis, menikahi Anda adalah sebuah
keputusan yang salah. Jawabannya mudah, Saya akan coba menjelaskannya.
Saya menarik kesimpulan bahwa Anda telah menempatkan "kecantikan" dan
"uang" adalah dua hal yang sederajat, di mana Anda mencoba menukar
kecantikan dengan uang. Pihak A menyediakan kecantikan dan Pihak B membayar
untuk itu, hal yang masuk akal. Tetapi, ada masalah besar di sini, yaitu kelak
kecantikan Anda akan hilang. Faktanya, penghasilan saya mungkin akan meningkat
dari tahun ke tahun, tetapi Anda tidak akan bertambah cantik tahun demi tahun.
Dan sebagai seorang pebisnis saya tidak akan merelakan uang saya hilang tanpa
alasan yang jelas.
Jika dipandang dari sudut ekonomi, saya adalah aset positif yang selalu
meningkat dan Anda adalah aset negatif yang selalu menyusut atau liabilitas.
Bahkan, saya bisa berkata bahwa penyusutan aset yang Anda miliki bukan hanya
penyusutan normal, tetapi penyusutan eksponensial. Jika Anda menganggap
kecantikan sebagai aset, tentunya nilai Anda akan sangat mengkhawatirkan 10
tahun mendatang.
Setiap aset selalu memiliki nilai tukar. Kecantikan Anda juga memiliki nilai
tukar. Berdasarkan aturan yang kita gunakan di Wall Street, jika nilai tukar
sebuah aset selalu turun maka aset tersebut harus segera dilepaskan. Menyimpan
aset menurun dalam jangka waktu lama adalah ide yang sangat buruk. Maaf jika
terdengar kasar, tetapi semua pria kaya tahu bahwa setiap aset dengan nilai
depresiasi besar harus segera dijual atau setidaknya "disewakan".
Anda seharusnya tahu bahwa pria dengan penghasilan lebih dari 500 ribu dollar
per tahun pasti bukanlah pria bodoh. Kami mungkin mau berkencan dengan Anda,
tetapi tidak untuk menikahi Anda. Saya menyarankan agar Anda melupakan saja ide
untuk mencari cara menikahi pria kaya. Lebih baik Anda menjadikan diri Anda
orang kaya dengan pendapatan lebih dari 500 ribu dollar per tahun. Hal ini
lebih bagus daripada mencari pria kaya bodoh yang mau menikahi Anda.
Mudah2an balasan ini dapat membantu. Jika Anda tertarik dengan servis
"sewa pinjam", silahkan hubungi saya.
(J.P. Morgan)** -----------------------------------------
Luar biasa sekali, jujur aku sangat kagum dengan pria yang membalas surat si
cantik tersebut, sangat bijaksana dan jawabannya terlihat cerdas lugas dan
tegas, sama kagumnya aku dengan gadis yang memberanikan diri untuk melabeli
harganya sebagai standart lelaki yang dapat menikahinya, bisa kubayangkan
bagaimana ekspresi wajah si gadis cantik itu ketika dia membaca surat balasan
morgan.
Flash back, di zaman Rasulullah SAW dulu, ada seorang perempuan yang
‘menawarkan’ dirinya pada Rasulullah, dan Rasul-pun tidak memandang hal itu
sebagai sesuatu yang hina atau tabu. Hanya saja, kini kita berada pada budaya
yang masyarakatnya masih memandang hal itu sebagai sesuatu yang tidak etis,
sehingga perempuan-perempuan Indonesia untuk persoalan jodoh lebih banyak
berperan menunggu dibandingkan ‘mencari’.
Agar pernikahan bersemi dengan indah, maka dalam memilih jodoh hendaknya kita
sangat mengutamakan ajaran Islam, seperti yang dipesankan Rasulullah SAW.
“..lihatlah agamanya maka kalian akan mendapatkan semuanya…”. Dengan memiliki
pasangan yang agamanya baik dan benar, maka rumah tangga kita akan menjadi
sakinah, mawaddah dan warahmah.
Akan tetapi harus diingat apabila ada seorang perempuan menawarkan dirinya
secara terang-terangan, apalagi melabel dirinya dengan harga yang mahal pada
lelaki merupakan sikap yang KURANG ahsan (etis).
“Penawaran itu sah-sah saja, manakala tidak secara langsung, misalnya lewat
perantara pihak ketiga. Biar bagaimanapun kita berada pada masyarakat timur
yang masih sangat memegang adat dan etika,”.
Jodoh, memang merupakan misteri kehidupan, karena untuk hal yang satu ini
terkadang membuat seseorang sangat bimbang dalam menentukan keputusannya.
Jangankan untuk menerima seseorang menjadi pasangan hidupnya kelak, dalam
persoalan mencari pacar saja terkadang masih terlalu banyak ‘kriteria’ yang
dipakai.
Sampai-sampai kriteria yang dipasangpun sudah tidak memenuhi kriteria syar’i
lagi, seperti : harus yang smart, tinggi, putih, cantik, ganteng, kaya,
sarjana, dan lainnya. Tidak salah memang untuk memasang kriteria seperti itu,
hanya saja menurut Nabi hendaknya kita tidak mempersulit diri untuk persoalan
ini.
Persoalan fisik adalah titipan dari Allah SWT, kita tidak pesan sama Allah
waktu mau dilahirkan! biar hitam asal hatinya putih, biar pendek asal akhlaknya
tinggi, biar kurang ganteng asal taqwa, biar kurang cantik tapi sholehah. Lagi
pula cinta kita jatuh pada siapa itu adalah URUSAN TUHAN, "Aku telah
melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dariKU" (Q.S. Taha: 39)
Proses untuk memperoleh jodoh yang baik juga menjadi ukuran. Menurut Islam,
“laki-laki yang baik adalah untuk perempuan yang baik dan perempuan yang baik
adalah untuk laki-laki yang baik (pula) (QS. An Nuur: 26). Bisa diartikan bahwa
jika kita seorang wanita yang baik maka kita akan mendapatkan suami yang baik,
demikian sebaliknya.
Mendapatkan pasangan yang baik dapat diukur dengan niat kita untuk berumah
tangga. Maksudku, kita harus benar-benar dalam kondisi keimanan yang prima saat
ingin melaksanakan pernikahan dan ukurannya adalah niat berumah tangganya.
Jangan sekali-kali berniat menikah saat niatnya belum lurus. Hal itu akan
mempengaruhi hasil dari pasangan yang akan kita dapatkan.
Saat niat dan kondisi keimanan sudah prima maka silahkan berencana untuk
menikah. Mulailah dari sekarang untuk menyusun strategi dan taktik agar
mendapatkan pasangan yang sesuai dengan idealisme. Strategi dan taktik ini
merupakan bagian dari proses yang harus dijalani secara Islami. Salah satu
proses itu adalah ta’aruf (perkenalan), dalam proses ini harus dijalani secara
ma’ruf. Agar proses ta’aruf menjadi ma’ruf, maka diperlukan KESABARAN yang
cukup.
Ta’aruf (perkenalan) terkadang tidak menjadi jaminan kita akan langsung dapat
menikah. Sekali gagal coba lagi, gagal lagi coba lagi, meskipun mencobanya
tetap pada orang yang sama :D demikian hingga akhirnya kita mendapatkan
pasangan yang sebenarnya yang bersamanya kita dapat membina keluarga sakinah,
mawaddah, wa rahmah.
Jangan sia-siakan pernikahan, sungguh-sungguhlah dalam menggapainya. Hmm,
seandainya di dunia ini ada surga, surga itu adalah pernikahan yang bahagia”.
Rasulullah SAW pun berkata ‘Baiti Jannati”, rumahku syurgaku. Kebahagiaan
merupakan hal yang relatif. Tiap orang mempunyai ukuran yang berbeda-beda.
Namun aku yakin kebahagiaan yang hakiki dapat kita peroleh hanya dengan
jalan-Nya.
Uswah
